Rabu, 15 September 2010

kawalat

Ancaman
pembakaran Alquran
bukan omong kosong.
Namun, pembakaran
bukan dilakukan oleh
Pastor Terry Jones, yang
sebelumnya mengancam
akan membakar kitab suci
umat Islam itu.
Pembakaran justru
dilakukan oleh pegawai NJ
Transit, perusahaan kereta
milik negara bagian New
Jersey, Amerika Serikat.
Derek Fenton memprotes
pembangunan masjid di
sekitar wilayah Ground
Zero Amerika Serikat pada
ulang tahun 11
September.
Pemerintah Amerika
Serikat pada Selasa 14
September 2010
mengumumkan, pembakar
Alquran di dekat lokasi
rencana pembangunan
masjid Ground Zero telah
dipecat dari NJ Transit.
Karir Derek Fenton selama
11 tahun di kantor itu
mendadak berhenti pada
Senin lalu, setelah foto-
fotonya saat merobek dan
membakar kitab suci umat
Islam itu beredar di koran.
Fenton, 39, membakar
Alquran saat protes
pembangunan masjid di
Ground Zero pada ulang
tahun kesembilan tragedi
11 September. Dia
tampaknya terinspirasi
oleh Pastor Terry Jones,
para pendeta di Florida
yang mengancam akan
membakar Alquran pada
hari itu, tapi kemudian
dibatalkan.
NJ Transit tidak
memberikan keterangan
spesifik mengenai
pemecatan Fenton.
"Tindakan Fenton telah
melanggar kode New
Jersey Transit," kata
pernyataan perusahaan.
"NJ Transit menyimpulkan
bahwa Fenton melanggar
kepercayaan sebagai
pegawai negara, karena
itu dia dipecat."
Fenton digelandang polisi
saat protes Sabtu pekan
lalu, namun dia
dibebaskan tanpa
tuduhan. Sumber polisi
mengatakan, Fenton
menjelaskan dirinya
sebagai "orang Amerika
yang setia" yang memiliki
hak untuk protes. Tapi
kata sumber, Fenton
seperti menyesali
perbuatannya.
"Dia tampak gelisah,
sepertinya dia berpikir itu
bukan ide yang baik,"
kata sumber polisi.
Sebelumnya, Alex Stewart,
seorang pengacara di
Queensland, Australia,
menggunakan potongan
kertas dari al-Quran dan
Injil sebagai pengganti
kertas rokok, lalu
membakarnya. Dia
merekam peristiwa ini dan
menyebarkannya di laman
YouTube beberapa hari
setelah Terry Jones
mengumumkan rencana
membakar al-Quran--yang
batal dilakukan.
Akibat ulahnya, Stewart
dipecat dari tempatnya
bekerja di Universitas
Teknologi Queensland
(QUT). Pihak universitas
menyatakan tidak bisa
menolerir perbuatan
Stewart. “QUT sangat
toleran terhadap semua
agama dan tidak
mendukung segala bentuk
penghinaan terhadap
simbol agama, ” ujar
rektor universitas, Carol
Dickenson, pada sebuah
pernyataan.
Niat membakar Quran
sebelumnya sudah
diprotes para tokoh
agama, termasuk dari
Indonesia.
Majelis Ulama Indonesia
(MUI) mengimbau umat
Muslim tidak terpancing
atas aksi sekelompok kecil
orang di Washington DC,
AS, yang mengaku
merobek beberapa
halaman buku yang
mereka klaim sebagai al-
Quran berbahasa Inggris
pada Sabtu, 11 September
2010 waktu setempat.
"Aksi itu hanya cari
sensasi, cuma cari gara-
gara," kata Ketua MUI,
Nazri Adlani Minggu, 12
September.
Hal serupa disampaikan
oleh Pemuka Katholik dan
tokoh pluralisme agama,
Frans Magnis Suseno.
"Perobekan Al Quran
sama memalukannya
seperti rencana
pembakaran Al Quran,"
demikian ditegaskan
Romo Magnis yang juga
merupakan Direktur
Program Pasca Sarjana
Sekolah Tinggi Filsafat
Driyakara, Minggu, 12
September 2010.
(New York Post dan Daily
News)
sumber
vivanews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar